Selasa, 19 Juli 2011

"Jeritan Dari Lokon"

Tomohon: Meliput   peristiwa  bencana alam,  bukanlah suatu pekerjaan mudah bagi seorang reporter/wartawan. Tantangan dan ancaman keselamatan selalu menjadi prioritas sebelum berangkat di lokasi bencana. Belum lagi setelah di lokasi, ketika melihat, mendengar, mencium dan merasakan fakta di lapangan.
Pada Selasa (19/7) di saat matahari makin merunduk diatas  ubun-ubun di kota sejuk Tomohon, jarum jam yang melingkar di lengan kiriku sudah menunjukan pukul 15.30 waktu Indonesia Tengah.  Kegiatan liputan terakhir saya bersama rekan Hengky Manopo di Taman Kota Tomohon adalah melihat pelayanan pengungsi di tempat itu. Kami memilih tempat itu karena dari 24  lokasi penampungan, di Taman Kota jumlah pengungsi melebihi lokasi lainya.
Ketika kami usai menyaksikan pemberiaan bantuan dari Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Minahasa Utara, kami berdua duduk di Taman Kota sambil mengamati di sekeliling kami dan sesekali melihat gelembung asap keabu-abuan dari kepundan gunung Lokon.
Diteras sejumlah pasangan suami istri, terlihat  duduk berdampingan tampa ada pembicaraan apapun.Anak-anak sedang bermain di sekeliling mereka, sepertinya tidak dapat menggangu tatapan dan buah pikiran mereka ketika itu.
Melihat fakta itu, saya mendekat  seorang bapak yang masih usia produktif. Tampa disapa, pria itu,  melempar senyum karena istrinya mendahului  saya menyapa mereka. Pembicaraan kami hanya seputar tempat pengungsian dan keberadaan para pengungsi. Ia menuturkan berbagi suka duka saat  menempati lokasi pengungsiaan setelah gunug Lokon meletus Kamis(14/7) yang lalu. Menurut pengungsi itu, selama ini mereka dan keluarganya tidur hanya beralas tikar di lantai. Pembagiaan selimut juga tidak merata.
"Dalam satu  ruangan ukuran sekitar 4x4 meter ditempati sekitar 3 kepala keluarga" ujar pengungsi.  "Apalagi saat tengah malam  terasa dingin" tutur seorang ibu yang diakui ibu-ibu lain, sambil menambah pembicaraan saya dengan suaminya.
Kondisi seperti itu membuat pengunsi kembali dirumah mereka, walaupun gunung lokon terus menunjukan tanda-tanda akan  meletus kembali. Pengugsi yang tidak menetap di lokasi penungsian, akhirnya saat pembagiaan makanan, tidak mendapat bagiaan makanan. 

Minggu, 17 Juli 2011

Pengunsi Gunung Lokon Di Pindahkan di 23 Lokasi Di Tomohon

Tomohon: Pemerintah Kota Tomohon pada Senin (18/7/2011) besok, rencananya akan memindahkan empat ribu lebih pengungsi yang menempati sejumlah sekolah SMU,SMK dan SMP Kristen. Rencana relokasi pengunsi itu akan dilakukan pemerintah kota Tomohon karena mulai besok sudah  memasuki tahun ajaran baru.
Rencana pemindahan itu  mendapat respon positif  pengungsi. Mereka ternyata sangat  memahami manfaat pendidikan untuk anak-anak mereka.
"Ya namanya pengungsi kami siap dipindahkan. Apalagi pemindahan kami karena gedung sekolah akan dimanfaatkan untuk belajar anak-anak" tutur pengungsi dengan nada iklasnya.
Untuk sekolah di zona bahaya yaitu di Kakaskasen dan Kinilow, Dinas Pendidikan Tomohon berencana meliburkan sekolah di wilayah itu untuk sementara waktu. Sebab memasuki  hari ke empat, pasca gunung Lokon melatus pada Kamis(14/7) malam pukul 23.30 waktu Indonesia Tengah, sampai saat ini terus menujukan aktivitasnya, dengan mengeluarkan letusan dan debu vulkanik.  
Pengungsi rencana pemerintah kota Tomohon akan di pindahkan di 23 lokasi seperti kantor kelurahan dan desa serta kantor kecamatan.

Jumat, 15 Juli 2011

Tim Penjinak Bom, Jinakan Captikus dan Asam Cuka Di Tomohon

Tomohon: Setelah tim gegana Polda Sulawesi Utara menjinakan bungkusan yang di curigai bom di Kota Tomohon sekitar satu jam pada Jumat(15/7/2011) malam ini, akhirnya isi  bungkusan itu  mengundang dan  membuat panik masyarakat Tomohon, berhasil terungkap. Benda  tak bertuan itu, ternyata setelah di jinakan tim Gegana adalah minuman captikus atau miras tradisional di Sulawesi Utara yang diisi di jerken ukuran lima liter serta satu botol asam cuka.


Setelah isi  bungkusan yang di duga bom itu terungkap pukul 22.00 Wita, pengungsi dan masyarakat sejak  sejak pukul 18.00 Wita berada di sekitar rumah Sakit Bhetesda Tomohon, meninggalkan tempat kejadiaan perkara TKP.
Bungkusan berisi minuman keras atau beralkohol itu, diduga aparat keamanan milik masyarakat di lokasi pengunsian untuk menghangatkan badan karena kedinginan.

Di Curigai Bom, Pengunsi Gunung Lokon Neket Melihat

Tomohon: Belum usai ancaman bahaya letusan gunung Lokon, masyarakat Kota Tomohon Jumat(15/7/2011) pada malam ini, di kejutkan penemuan bungkusan tampa pemilik yang di curigai bom. Bendah itu, di temukan warga dekat rumah sakit Bethesda Tomohon. 
Penemuan bubgkusan yang di curigai bom itu, selanjutnya menyebar di Tomohon, sehingga mengundang  rasa ingin tahu pengungsi  untuk melihat.
Membludaknya masyarakat mendekati bungkusan yang di duga bom itu, akhirnya Polres Tomohon memasang garis polisi sambil menungu tim gagana dalam perjalanan dari Manado menuju Tomohon malam ini.