Tomohon: Meliput peristiwa bencana alam, bukanlah suatu pekerjaan mudah bagi seorang reporter/wartawan. Tantangan dan ancaman keselamatan selalu menjadi prioritas sebelum berangkat di lokasi bencana. Belum lagi setelah di lokasi, ketika melihat, mendengar, mencium dan merasakan fakta di lapangan.
Pada Selasa (19/7) di saat matahari makin merunduk diatas ubun-ubun di kota sejuk Tomohon, jarum jam yang melingkar di lengan kiriku sudah menunjukan pukul 15.30 waktu Indonesia Tengah. Kegiatan liputan terakhir saya bersama rekan Hengky Manopo di Taman Kota Tomohon adalah melihat pelayanan pengungsi di tempat itu. Kami memilih tempat itu karena dari 24 lokasi penampungan, di Taman Kota jumlah pengungsi melebihi lokasi lainya.
Ketika kami usai menyaksikan pemberiaan bantuan dari Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Minahasa Utara, kami berdua duduk di Taman Kota sambil mengamati di sekeliling kami dan sesekali melihat gelembung asap keabu-abuan dari kepundan gunung Lokon.
Diteras sejumlah pasangan suami istri, terlihat duduk berdampingan tampa ada pembicaraan apapun.Anak-anak sedang bermain di sekeliling mereka, sepertinya tidak dapat menggangu tatapan dan buah pikiran mereka ketika itu.
Melihat fakta itu, saya mendekat seorang bapak yang masih usia produktif. Tampa disapa, pria itu, melempar senyum karena istrinya mendahului saya menyapa mereka. Pembicaraan kami hanya seputar tempat pengungsian dan keberadaan para pengungsi. Ia menuturkan berbagi suka duka saat menempati lokasi pengungsiaan setelah gunug Lokon meletus Kamis(14/7) yang lalu. Menurut pengungsi itu, selama ini mereka dan keluarganya tidur hanya beralas tikar di lantai. Pembagiaan selimut juga tidak merata.
"Dalam satu ruangan ukuran sekitar 4x4 meter ditempati sekitar 3 kepala keluarga" ujar pengungsi. "Apalagi saat tengah malam terasa dingin" tutur seorang ibu yang diakui ibu-ibu lain, sambil menambah pembicaraan saya dengan suaminya.
Kondisi seperti itu membuat pengunsi kembali dirumah mereka, walaupun gunung lokon terus menunjukan tanda-tanda akan meletus kembali. Pengugsi yang tidak menetap di lokasi penungsian, akhirnya saat pembagiaan makanan, tidak mendapat bagiaan makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar