Senin, 27 Juni 2011

Sampah Plastik Mengancam Kawasan Taman Nasional Bunaken

Manado:  Peningkatan jumlah penduduk dan kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungan  ikut memberi dampak negatif  kebersihan kawasan taman Nasional Bunaken. Sampah plastik yang di buang masyarakat di sungai maupun di laut, akhirnya  hanyut sampai di kawasan Bunaken. Bila anda menelusuru kawasan hutan mangrove (bakau) dari pantai Molas sampai desa Wori Kabupaten Minahasa Utara, banyak sampah plastik  tergantung  di hutan bakau.  Keberadaan sampah itu, tentunya dapat mengancam pertumbuhan dan perkembangan hutan bakau serta  dapat  mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang.

Sementara sejauh ini upaya dari pemerintah menjaga kebersihan pantai hanya bersifat temporer. Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Hari Sarundayang pada peringatan hari lingkungan hidup se dunia belum lama ini di Manado mengaku, Pemda Sulut maupun Manado tidak dapat berbuat lebih karena pengelolaan taman nasional Bunaken menjadi tanggung jawab Kementrian Kehutanan. "Kita mengeluarkan uang harus ada dasarnya" tutur Sarundayang.  Diakuinya, ia sudah  berulang kali menghadap Menteri Kehutanan, tetapi menteri memintah agar dirubah dulu Undang-Undang  taman Nasional Bunaken. "Dengan status  itu, tidak mungkin pengelolaan (TNB)  diambil alih daerah" tuturnya.
Ekon Wahyu Handoyo  peneliti dari Balai Taman Nasional Bunaken mengakui, aktivitas masyarakat dan minimnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, turut membawa dampak negatif terhadap ekosistim lingkungan pesisir maupun terumbu karang di Bunaken. Bahkan limba-limba di teluk Manado, turut mendorong pertumbuhan hama pemangsa karang di taman laut nasional Bunaken. Dalam mencegah masalah ini, ia berharap ada kepedulian semua pihak termasuk masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar