Jumat, 24 Juni 2011

"Sulitnya Mencari BBM"

Manado(24/6/2011): Dari jarak sepuluh meter, seorang ibu separuh baya turun dari angkutan umum  di jalan raya Molas atau tepatnya di kompleks Polsek Bunaken.  Sepintas ia terlihat kecewa, sambil  berjalan dan mengeluarkan uang recehan kearah sopir, sambil  memegang  jerken kosong. 
Tak lama ia berhenti sejenak di seberang jalan, wanita itu berjalan kearah saya sambil melempar senyum."Dari cari minyak tanah, tapi habis di pangkalan" kata wanita separu baya itu  tampa ditanya. 
Saat itu, jarum jam di tangan saya sudah menunjukan pukul 10.00 waktu Indonesia Tengah. Artinya, tinggal dua jam lagi sudah waktunya  untuk makan."Yah, karena tidak mendapat minyak tanah, terpaksa memasak pakai kayu" tuturnya  dengan dialek Manado ,sambil ia berlalu merespon  senyum balasan saya.
Permasalahan yang dihadapi salah satu warga itu, adalah cermin masyarakat strata menegah ke bawah di Manado. Setiap pangkalan minyak tanah, dimana-mana terlihat masyarakat berebutan membeli minyak tanah. Fenomena yang sama juga terjadi di sejumlah SPBU di Manado dan Minahasa dalam beberapa pekan ini. Rencana pertamina dan pemerintah  mengurangi  pasokan BBM bersubsidi, justru  membawah dampak sosial pada  masyakat miskin.
Bila di wilayah perkotaan walaupun agak sulit mencari atau membeli BBM, di daerah kepulauan seperti di kabupaten kepuluan Talaud, stok BBM di daerah perbatasan itu sering habis berminggu-minggu. "Kalau mulai mendekati stok BBM habis agen, harga prenium dipangkalan atau ditingkat pengecer sampai mencapai Rp.20.000" tutur Femmy Unsong salah satu PNS di daerah perbatasan itu. Menurutnya, harga prenium di Melonguane (ibu kota kabupaten) seperti itu, apa lagi di wilayah akses transportasi dan komunikasi sangat terbatas, seperti di pulau terluar dan di wilayah pulau Karakelang utara, dimana jalan belum dibangun.
Kondisi tersebut sungguh sutu ironi bagi ibu pertiwi yang banyak mengandung sumberdaya alamnya, untuk anak-anak di negeri ini.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar