Kamis, 04 Agustus 2011

Penangulangan Bencana Di Sulut Sudah Cukup Maksimal

Manado : Kepala Badan Penangulangan Bencana Sulawesi Utara Oike Makaraung mengakui penanganan bencana di Bumi Nyiur Melambai sudah cukup maksimal. " Ini dibuktikan dengan penghargaan yang di terima Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, serta derasnya arus studi banding sejumlah Pemda di Indonesia, belajar tentang penanggulangan bencana di daerah ini" tuturnya di hadapan peserta pelatihan data informasi bencana Indonesia untuk admin dan user di Sulawesi Utara pada Jumat (5/8/2011) di Manado.

Kendati Sulut sudah berhasil dalam melakukan penangulangan bencana,  Makaraung mengakui berbagai peristiwa bencana  yang terjadi di daerah ini seperti letusan Gunung Soputan dan Lokon di Kota Tomohon beberapa waktu lalu, ia menilai masih perlu penyempurnaan. "Termasuk pendataan dan mekanisme penyaluran bantuan" ujarnya. Untuk mencapai kesempurnaan dalam penanganan terhadap mereka yang  menjadi korban, ia  menilai perlu ada kebersamaan dan saling pengertiaan  antar semua pihak termasuk pengungsi. 

Selasa, 19 Juli 2011

"Jeritan Dari Lokon"

Tomohon: Meliput   peristiwa  bencana alam,  bukanlah suatu pekerjaan mudah bagi seorang reporter/wartawan. Tantangan dan ancaman keselamatan selalu menjadi prioritas sebelum berangkat di lokasi bencana. Belum lagi setelah di lokasi, ketika melihat, mendengar, mencium dan merasakan fakta di lapangan.
Pada Selasa (19/7) di saat matahari makin merunduk diatas  ubun-ubun di kota sejuk Tomohon, jarum jam yang melingkar di lengan kiriku sudah menunjukan pukul 15.30 waktu Indonesia Tengah.  Kegiatan liputan terakhir saya bersama rekan Hengky Manopo di Taman Kota Tomohon adalah melihat pelayanan pengungsi di tempat itu. Kami memilih tempat itu karena dari 24  lokasi penampungan, di Taman Kota jumlah pengungsi melebihi lokasi lainya.
Ketika kami usai menyaksikan pemberiaan bantuan dari Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Minahasa Utara, kami berdua duduk di Taman Kota sambil mengamati di sekeliling kami dan sesekali melihat gelembung asap keabu-abuan dari kepundan gunung Lokon.
Diteras sejumlah pasangan suami istri, terlihat  duduk berdampingan tampa ada pembicaraan apapun.Anak-anak sedang bermain di sekeliling mereka, sepertinya tidak dapat menggangu tatapan dan buah pikiran mereka ketika itu.
Melihat fakta itu, saya mendekat  seorang bapak yang masih usia produktif. Tampa disapa, pria itu,  melempar senyum karena istrinya mendahului  saya menyapa mereka. Pembicaraan kami hanya seputar tempat pengungsian dan keberadaan para pengungsi. Ia menuturkan berbagi suka duka saat  menempati lokasi pengungsiaan setelah gunug Lokon meletus Kamis(14/7) yang lalu. Menurut pengungsi itu, selama ini mereka dan keluarganya tidur hanya beralas tikar di lantai. Pembagiaan selimut juga tidak merata.
"Dalam satu  ruangan ukuran sekitar 4x4 meter ditempati sekitar 3 kepala keluarga" ujar pengungsi.  "Apalagi saat tengah malam  terasa dingin" tutur seorang ibu yang diakui ibu-ibu lain, sambil menambah pembicaraan saya dengan suaminya.
Kondisi seperti itu membuat pengunsi kembali dirumah mereka, walaupun gunung lokon terus menunjukan tanda-tanda akan  meletus kembali. Pengugsi yang tidak menetap di lokasi penungsian, akhirnya saat pembagiaan makanan, tidak mendapat bagiaan makanan. 

Minggu, 17 Juli 2011

Pengunsi Gunung Lokon Di Pindahkan di 23 Lokasi Di Tomohon

Tomohon: Pemerintah Kota Tomohon pada Senin (18/7/2011) besok, rencananya akan memindahkan empat ribu lebih pengungsi yang menempati sejumlah sekolah SMU,SMK dan SMP Kristen. Rencana relokasi pengunsi itu akan dilakukan pemerintah kota Tomohon karena mulai besok sudah  memasuki tahun ajaran baru.
Rencana pemindahan itu  mendapat respon positif  pengungsi. Mereka ternyata sangat  memahami manfaat pendidikan untuk anak-anak mereka.
"Ya namanya pengungsi kami siap dipindahkan. Apalagi pemindahan kami karena gedung sekolah akan dimanfaatkan untuk belajar anak-anak" tutur pengungsi dengan nada iklasnya.
Untuk sekolah di zona bahaya yaitu di Kakaskasen dan Kinilow, Dinas Pendidikan Tomohon berencana meliburkan sekolah di wilayah itu untuk sementara waktu. Sebab memasuki  hari ke empat, pasca gunung Lokon melatus pada Kamis(14/7) malam pukul 23.30 waktu Indonesia Tengah, sampai saat ini terus menujukan aktivitasnya, dengan mengeluarkan letusan dan debu vulkanik.  
Pengungsi rencana pemerintah kota Tomohon akan di pindahkan di 23 lokasi seperti kantor kelurahan dan desa serta kantor kecamatan.

Jumat, 15 Juli 2011

Tim Penjinak Bom, Jinakan Captikus dan Asam Cuka Di Tomohon

Tomohon: Setelah tim gegana Polda Sulawesi Utara menjinakan bungkusan yang di curigai bom di Kota Tomohon sekitar satu jam pada Jumat(15/7/2011) malam ini, akhirnya isi  bungkusan itu  mengundang dan  membuat panik masyarakat Tomohon, berhasil terungkap. Benda  tak bertuan itu, ternyata setelah di jinakan tim Gegana adalah minuman captikus atau miras tradisional di Sulawesi Utara yang diisi di jerken ukuran lima liter serta satu botol asam cuka.


Setelah isi  bungkusan yang di duga bom itu terungkap pukul 22.00 Wita, pengungsi dan masyarakat sejak  sejak pukul 18.00 Wita berada di sekitar rumah Sakit Bhetesda Tomohon, meninggalkan tempat kejadiaan perkara TKP.
Bungkusan berisi minuman keras atau beralkohol itu, diduga aparat keamanan milik masyarakat di lokasi pengunsian untuk menghangatkan badan karena kedinginan.

Di Curigai Bom, Pengunsi Gunung Lokon Neket Melihat

Tomohon: Belum usai ancaman bahaya letusan gunung Lokon, masyarakat Kota Tomohon Jumat(15/7/2011) pada malam ini, di kejutkan penemuan bungkusan tampa pemilik yang di curigai bom. Bendah itu, di temukan warga dekat rumah sakit Bethesda Tomohon. 
Penemuan bubgkusan yang di curigai bom itu, selanjutnya menyebar di Tomohon, sehingga mengundang  rasa ingin tahu pengungsi  untuk melihat.
Membludaknya masyarakat mendekati bungkusan yang di duga bom itu, akhirnya Polres Tomohon memasang garis polisi sambil menungu tim gagana dalam perjalanan dari Manado menuju Tomohon malam ini. 

Senin, 27 Juni 2011

Sampah Plastik Mengancam Kawasan Taman Nasional Bunaken

Manado:  Peningkatan jumlah penduduk dan kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungan  ikut memberi dampak negatif  kebersihan kawasan taman Nasional Bunaken. Sampah plastik yang di buang masyarakat di sungai maupun di laut, akhirnya  hanyut sampai di kawasan Bunaken. Bila anda menelusuru kawasan hutan mangrove (bakau) dari pantai Molas sampai desa Wori Kabupaten Minahasa Utara, banyak sampah plastik  tergantung  di hutan bakau.  Keberadaan sampah itu, tentunya dapat mengancam pertumbuhan dan perkembangan hutan bakau serta  dapat  mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang.

Sementara sejauh ini upaya dari pemerintah menjaga kebersihan pantai hanya bersifat temporer. Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Hari Sarundayang pada peringatan hari lingkungan hidup se dunia belum lama ini di Manado mengaku, Pemda Sulut maupun Manado tidak dapat berbuat lebih karena pengelolaan taman nasional Bunaken menjadi tanggung jawab Kementrian Kehutanan. "Kita mengeluarkan uang harus ada dasarnya" tutur Sarundayang.  Diakuinya, ia sudah  berulang kali menghadap Menteri Kehutanan, tetapi menteri memintah agar dirubah dulu Undang-Undang  taman Nasional Bunaken. "Dengan status  itu, tidak mungkin pengelolaan (TNB)  diambil alih daerah" tuturnya.
Ekon Wahyu Handoyo  peneliti dari Balai Taman Nasional Bunaken mengakui, aktivitas masyarakat dan minimnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, turut membawa dampak negatif terhadap ekosistim lingkungan pesisir maupun terumbu karang di Bunaken. Bahkan limba-limba di teluk Manado, turut mendorong pertumbuhan hama pemangsa karang di taman laut nasional Bunaken. Dalam mencegah masalah ini, ia berharap ada kepedulian semua pihak termasuk masyarakat.

Nelayan Philifina Mengancam Nelayan Di Talaud Dengan Senjata Api

Manado : Akhir-akhir ini nelayan tradisional di Kabupaten Kepulaun Talaud takut melaut untuk menangkap ikan dilaut dalam di mana terdapat rumpon karena nelayan dari Philifina sering melakukan pengancaman dengan senjata api. "Mereka(nelayan Philifina) disaat kami merapat di rumpon untuk menangkap ikan bersama-sama, mereka langsung buang tembakan" tutur salah satu nelayan di Talaud.
Menurut para nelayan, adanya ancaman dari nelayan Philifina, mereka terpaksa bergeser dari rumpon. Nelayan mengaku, mereka berani menangkap ikan dirumpon yang di pasang nelayan Philifina karena rumpon-rumpon yang ada masih diperairan Indonesia.
Adanya ancaman keselamatan mereka, nelayan di Talaud melaporkan permasalhan yang mereka hadapi di Polres.
Kapolres Talaud AKBP Endang Karnadi di Manado,Senin(27/6/2011) mengakui laporan masyarakat itu. Menurutnya, menindak lanjuti keresahan nelayan di Talaud, pihaknya kurang lebih satu bulan ini terus melakukan patroli di TKP dan di pulau terluar. "Dari operasi itu, pada Sabtu,(25/6/2011) malam, berhasil ditangkap satu dari empat kapal Philifina" kata Endang Karnadi.
Kapal bersama 18 anak buah kapal ABK serta barang bukti tiga ton ikan, saat ini di amankan di Polres Talaud.

Sabtu, 25 Juni 2011

PLTS Belum Mendorong Pesona Bunaken

Manado : Kehadiran pembangit listrik tenaga surya(PLTS) di pulau Bunaken, yang di resmikan pada awal tahun 2011 ini, ternyata belum juga menjawab kebutuhan listrik di kawasan wisata bahari dipulau itu. 
Tinginya kebutuhan listrik masyarakat dan idustri pariwisata di Bunaken, menyebabkan PLN sering melakukan  pemadaman. Padahal saat peresmian pembangit listrik tenaga surya beberapa bulan lalu, gubernur Sulawesi Utara Sinyo Hari Sarundayang dan sejumlah pejabat PLN menjamin permasalahan penerangan yang sering di sampaikan  masyarakat tidak terjadi lagi. Namun seiring janji itu berlalu, masyarakat masih diperhadapkan pada masalah yang sama. 
"Dalam satu hari sering tiga kali pemadaman pak. Bahkan dalam sehari tidak menyala listrik" tutur sejumlah warga  Bunaken pada Sabtu(25/6/2011).
Pemadaman listrik yang sering terjadi di kawasan wisata itu, ikut juga  mempengaruhi pendapatan masyarakat. Seperti halnya pedagang es. Pedagang  pada umumnya  ibu-ibu rumah tangga, mereka terpaksa berhenti menjual  walaupun masih ada permintaan wisatawan. 
Sementara itu seiring  peningkatan kebutuhan listrik di Bunaken,  PT PLN berencana menambah lahan untuk ditempatkan alat penyimpan tenga surya.  

Jumat, 24 Juni 2011

"Sulitnya Mencari BBM"

Manado(24/6/2011): Dari jarak sepuluh meter, seorang ibu separuh baya turun dari angkutan umum  di jalan raya Molas atau tepatnya di kompleks Polsek Bunaken.  Sepintas ia terlihat kecewa, sambil  berjalan dan mengeluarkan uang recehan kearah sopir, sambil  memegang  jerken kosong. 
Tak lama ia berhenti sejenak di seberang jalan, wanita itu berjalan kearah saya sambil melempar senyum."Dari cari minyak tanah, tapi habis di pangkalan" kata wanita separu baya itu  tampa ditanya. 
Saat itu, jarum jam di tangan saya sudah menunjukan pukul 10.00 waktu Indonesia Tengah. Artinya, tinggal dua jam lagi sudah waktunya  untuk makan."Yah, karena tidak mendapat minyak tanah, terpaksa memasak pakai kayu" tuturnya  dengan dialek Manado ,sambil ia berlalu merespon  senyum balasan saya.
Permasalahan yang dihadapi salah satu warga itu, adalah cermin masyarakat strata menegah ke bawah di Manado. Setiap pangkalan minyak tanah, dimana-mana terlihat masyarakat berebutan membeli minyak tanah. Fenomena yang sama juga terjadi di sejumlah SPBU di Manado dan Minahasa dalam beberapa pekan ini. Rencana pertamina dan pemerintah  mengurangi  pasokan BBM bersubsidi, justru  membawah dampak sosial pada  masyakat miskin.
Bila di wilayah perkotaan walaupun agak sulit mencari atau membeli BBM, di daerah kepulauan seperti di kabupaten kepuluan Talaud, stok BBM di daerah perbatasan itu sering habis berminggu-minggu. "Kalau mulai mendekati stok BBM habis agen, harga prenium dipangkalan atau ditingkat pengecer sampai mencapai Rp.20.000" tutur Femmy Unsong salah satu PNS di daerah perbatasan itu. Menurutnya, harga prenium di Melonguane (ibu kota kabupaten) seperti itu, apa lagi di wilayah akses transportasi dan komunikasi sangat terbatas, seperti di pulau terluar dan di wilayah pulau Karakelang utara, dimana jalan belum dibangun.
Kondisi tersebut sungguh sutu ironi bagi ibu pertiwi yang banyak mengandung sumberdaya alamnya, untuk anak-anak di negeri ini.      

Rabu, 22 Juni 2011

Kekuatan Rakyat Tantang Ganggali

Pelantikan Asisten Dua Jemmy Gagola sebagai Sekretaris Daerah yang definitif yang belum dilakukan Plt Bupati Talaud Chostantein Ganggali mendapat sorotan berbagai elemen masyarakat di daerah perbatasan itu. Tokoh pemuda Talaud Obet Unsong,S.Sos menilai, penundaan pelantikan Gagola sebagai Sekda, dugaan kuat karena ada permainan di jajaran birokrasi, terutama masalah keungan.
 "Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan dan pembangunan di tanah Porodisa, jika bupati mengulur waktu pelantikan sekda definitif" tutur Unsong, Rabu (22/6/2011) melalui telp genggamnya dari Talaud.
Menurutnya, bila pelantikan terus ditunda, rakyat Talaud akan menantang bupati.  Alasanya, rakyat sudah jenuh dengan pelaksanaan roda pemerintahan  selama ini, dimana keputusan strategis pemerintahan tidak normal karena sebagiaan besar pejabat di Talaud, masih berstatus pelaksana tugas.

Hal yang sama di sampaikan tokoh masyarakat Fajar Lalompo. Melalui telp gengamnya, ia mengaku prihatin dengan pemerintahan di daerahnya, yang hanya di jabat plt. Dia mencontohkan sejumlah jalan  dan fasilitas publik di daerahnya, kurang baik dan tidak memberikan pelayanan secara maksimal pada masyarakat. "Sebab semua PNS hanya membicarakan politik dan kepentinganya" kata Lalompoh.
Sementara itu, Ketua Sinode Gereja Masehi Ijili di Talaud (Germita) Pdt Sambo Taariwuan,STh di hubungi terpisah, menyesalkan pernyataan Ketua Remaja Germita Jakob Mangole yang menyebutkan " masyarakat tolak Jemmy Gagola sebagai Sekda Talaud yang definitif". Menurut Ketua Sinode,  pernyataan tersebut, adalah pernyataan pribadi dan bukan atas nama istitusi atau lembaga. "Justru berbagai elemen masyarakat seperti lembaga gereja, adat dan PNS di kabupaten kepuluan Talaud, menghendaki agar secepatnya Jemmy Gagola di lantik" katanya.
Jemmy Gagagola pada pelaksanaan fit and profertes di kantor gubernur beberapa bulan lalu, berhasil menyisihkan dua kandidat lainya, termasuk plt sekda Denny Tatuwo.